Selasa, 19 Maret 2019

Serba-serbi Dunia Fesyen Haute Couture | Konsultan Bisnis Manajemen


KONSULTAN BABY SHOP

TERNAMA, +62 813 - 9864 – 6177, Serba-serbi Dunia Fesyen Haute Couture

Konsultan, Konsultan Ritel, Manajemen Konsultan Indonesia, Konsultan Bisnis Ritel, Usaha Diera Digital, Strategi Bisnis Di Era Digital, Bisnis Di Era Digital, Konsultan Bisnis di Sidoarjo, Konsultan Bisnis di Surabaya, Konsultan Bisnis di Malang, Bisnis Jakarta 2018, Konsultan Bisnis Jakarta, Bisnis di Jakarta, Konsultan Manajemen Jakarta, Manajemen Bisnis Jakarta, Konsultan Manajemen di Jakarta



Serba-serbi Dunia Fesyen Haute Couture - Paris Couture Week dimulai pada Senin (21/01). Ajang fesyen ini diadakan dua kali setahun, yakni pada Januari untuk koleksi musim semi/panas dan bulan Juli untuk koleksi musim gugur/dingin, couture week menampilkan koleksi-koleksi haute couture yang eksklusif.

Lifestyle Okezone


Ajang fesyen couture week berbeda dengan pekan mode pada umumnya. Banyak orang bertanya-tanya tentang apa itu couture. Tak dimungkiri, couture fashion memang penuh dengan misteri yang membingungkan.

Apa definisi haute couture? Dan apa bedanya dengan couture?

Haute couture adalah sebuah terminologi yang dikontrol dengan ketat dan dilindungi hukum-hukum di yuridiksi negara Prancis, yang berarti pemakaian label haute couture hanya ditujukan bagi rumah-rumah mode yang diberi izin oleh Kementerian Industri Prancis karena memenuhi standar tinggi, pembuatan pakaian dengan bahan dan teknik terbaik, yang dieksekusi oleh para artisan terlatih. Lokasi pembuatan haute couture hanya ada di Paris.

Couture, yang identik dengan pembuatan pakaian unggul, sering dipakai oleh para desainer yang membuat pakaian sesuai pesanan, dengan proses fitting dan pemilihan detail yang ikut melibatkan klien.

Dalam bahasa Indonesia, haute couture sering diterjemahkan dengan adibusana, meski sebenarnya terjemahan itu lebih cocok untuk kata couture, mengingat haute couture adalah sebuah gelar untuk label. Penggunaan istilah haute couture yang salah kaprah memang sering terjadi, biasanya dengan sengaja menyematkan haute couture meski labelnya belum mendapatkan appellation dari Chambre Syndicale de la Haute Couture.

Haute couture merupakan sebuah "appellation contrôlée", layaknya Champagne (hanya sparkling wine yang dibuat di wilayah Champagne di Prancis-lah yang boleh memakai label Champagne).
Hal ini berarti tak semua desainer dan rumah mode bisa menyematkan label haute couture sebagai bagian dari nama labelnya. Hanya mereka yang memenuhi syarat dan lulus uji dari Prancis yang berhak memakainya.
Kunjungi : www.konsultan.co

Rumah mode mana sajakah yang memproduksi haute couture?

Anggota resmi haute couture direvisi setiap tahun. Untuk kelander resmi Paris Couture Week musim panas 2019, rumah mode besar seperti Chanel, Christian Dior, Givenchy, Jean Paul Gaultier, dan Maison Margiela mungkin adalah rumah mode yang populer, karena selain memproduksi pakaian, rumah mode tersebut ada yang memproduksi lini siap pakai, parfum, hingga lini kosmetik.

Selain mereka, anggota lainnya adalah rumah mode Giambattista Valli, Alexandre Vauthier, Adeline André, Alexis Mabille, Julien Fournié, Franck Sorbier, Schiaparelli, Stéphane Rolland, Maurizio Galante, dan Maison Rabih Kayrouz.

Selain anggota tetap, ada pula anggota koresponden, yakni rumah mode yang berbasis di luar Prancis yang juga ikut dalam pagelaran Paris Couture Week, yakni Versace, Valentino, Fendi Couture, Elie Saab, Viktor&Rolf, Azzedine Alaia, dan Giorgio Armani Privé.

Kategori ketiga, yakni anggota tamu, ditujukan bagi rumah mode yang berada dalam tahap 'uji coba' sebelum mereka mendapatkan apelasi atau label haute couture. Di antaranya adalah Balmain Paris (pertama kali sejak Balmain Couture dibawah arahan Oscar de la Renta tutup di tahun 2002), Ralph&Russo, Guo Pei, Zuhair Murad, Georges Hobeika, Iris van Herpen, dan Ulyana Sergeenko.
Kunjungi : konsultanbisnis.id 

Bagaimana pakaian haute couture dibuat?

Tahap awal yang penting dalam pembuatan haute couture adalah Toile atau prototipe, yakni realisasi tiga dimensi ide pakaian menggunakan muslin atau kain katun polos. Prototipe ini akan dirombak dan disesuaikan hingga sang grand couturier - sebutan untuk desainer haute couture - menyetujui seluruh aspek toile.

Barulah material dipilih, dipotong sesuai pola toile, dan proses lain seperti disulam, dipayet, dilipit, dihiasi dengan bulu, kristal, dan mutiara. Haute couture nyaris seluruhnya dibuat dengan tangan (dalam beberapa kasus, seperti dres ikonik Mondrian karya Yves Saint Laurent di tahun 1965 dibuat dengan mesin jahit), dan setiap detailnya dibuat secara terpisah.

Secara tradisi, ada dua macam atelier yang terlibat, yakni atelier flou (studio yang membuat pakaian dengan siluet ringan seperti dress dan gaun malam) dan atelier tailleur (yang membuat setelan jas, celana panjang, dan mantel). Selain itu ada atelier khusus untuk pemasangan payet (misalnya Maison Lessage), pembuatan lipit atelier pengolahan bulu (plumassier), pembuat sepatu, hingga detail-detail kecil seperti pembuat kancing (buttonier) dan resleting.

Karena kompleksitas dan banyaknya detail dan proses pengepasan yang memakan waktu, setiap potong pakaian haute couture bisa memakan waktu hingga ribuan jam. Pembuatan mantel kuning yang ikonik karya Guo Pei yang dikenakan Rihanna di Met Ball bahkan memakan waktu hingga dua tahun.

Berapa harga baju haute couture? 

Dalam dunia haute couture, harga adalah salah satu dari sedikit topik yang dihindari (selain identitas para pemesan baju haute couture. Para rumah mode terkenal menutup rapat identitas klien mereka). Karena melibatkan keinginan klien, satu potong pakaian bisa memiliki harga berbeda untuk klien yang berbeda, bergantung pada spesifikasi khusus dan ukuran, karena setiap potongnya akan dibuat dari nol.

Terkait harganya sendiri, banyak kabar beredar jika Anda memiliki ukuran layaknya model - artinya tak perlu banyak alterasi- maka harga busana couture-nya bisa 30 persen lebih murah. Secara umum, harga sepasang setelan atau gaun tanpa payet dan hiasan berada di kisaran 30 ribu Euro.

Gaun malam penuh payet atau gaun pengantin bahkan bisa mencapai ratusan ribu Euro. Harga mantel bulu karya Fendi di koleksi haute fourrure dikabarkan mencapai 1 juta Euro.

Diprediksi hanya ada sekitar seribu klien couture yang membeli haute couture di seluruh dunia. Berbeda dengan selebriti yang memakai couture di karpet merah dengan baju-baju pinjaman, para klien couture membayar pakaian mereka, dan kebanyakan tidak suka memesan baju yang sudah dipakai selebriti ataupun untuk pemotretan majalah.

Pakaian couture juga bukan menjadi domain perempuan berusia tertentu. Rumah mode asal Inggris Ralph&Russo membagi kepada CNNIndonesia.com, bahwa klien termuda mereka berusia 6 bulan.

Jika sepotong baju saja bisa semahal itu dan tidak banyak pembelinya, lalu apa relevansinya dan bagaimana mereka bisa mendapatkan keuntungan?

Dunia haute couture jauh berbeda dengan dunia fesyen pada umumnya apalagi dengan dunia ritel busana siap pakai. Jangan bicara soal uang dan keuntungan saat bicara soal haute couture.

Haute couture diibaratkan sebuah laboratorium fashion, di mana tidak ada ide yang terlalu gila, terlalu aneh, atau terlalu sulit. Para perancang dan tim bereksperimen dengan material, potongan, siluet, dan kreativitas yang memerlukan waktu dan pertimbangan matang. Banyak ide-ide revolusioner yang muncul dari haute couture.

Chanel menciptakan payet berbahan beton, kayu, dan kertas. Julien Fournié menciptakan sepatu dengan teknologi tiga dimensi printing, lama sebelum desainer lain.

Franck Sorbier menciptakan gaun yang bisa berganti warna berkat penggabungan layar proyektor dan bodice sebuah gaun.

Selain itu, tema-tema show juga bisa meningkatkan perhatian tentang tema-tema sosial seperti iklusivitas (Jean Paul Gaultier), daur ulang (Viktor&Rolf Couture musim dingin 2016/2017), dan restorasi lingkungan hidup (Chanel Couture musim panas 2013).

Haute couture show juga memiliki prestise yang tinggi dan dipublikasikan secara besar-besaran, yang menjadi stategi bisnis yang unik untuk memasarkan produk dari lini siap pakai, parfum, perabotan rumah, dan kosmetik.

Industri fesyen dimulai dengan membangun aspirasi, dan dengan sebuah lipstik atau sebotol parfum, sebuah rumah mode bisa membuat Anda menjadi bagian dari dunia fantasi couture yang mewah.

Karl Lagerfeld, grand couturier brilian dan satu-satunya desainer untuk dua couture rumah mode yakni Chanel dan Fendi, menyimpulkannya dengan dua kalimat, "Haute couture adalah sebuah pulau penuh mimpi dan eskapisme. Ini adalah bentuk tinggi kemewahan yang melampaui fesyen dan melintasi waktu."
Baca Juga : Kemendag Bakal Bentuk Sistem Informasi Perdagangan Terpadu

sumber : CNN Indonesia


Industri yang kami layani :
>>> Retail / Ritel : Segala jenis toko ; Toko Buku, Toko Bangunan, Minimarket, Supermarket, Hypermarket, Toko Buah, Toko Obat / Apotik, Baby Shop, Pet Shop, Toko Roti / Bakery, Dll.
>>> Manufacture / Pabrik : Segala Jenis Pabrik ; Pabrik Makanan & Minuman, Pabrik Plastik, Pabrik Kertas, Dll.
>>> Service : Hotel, Restoran, Printing, Cafe, FnB, F & B, Laundry, Wedding, Fashion Design, Barber Shop, Dll.
>>> Start Up : Segala Jenis Industri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Waspada! Posisi Supermarket Terancam Minimarket | Konsultan Bisnis Manajemen

KONSULTAN BABY SHOP MAHIR, +62 813 – 9864 – 6177, Waspada! Posisi Supermarket Terancam Minimarket Konsultan, Konsultan Ritel, Manajeme...